Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, meminta pemerintah pusat memberikan uang lauk pauk sebesar Rp 15 ribu per orang setiap hari kepada para pengungsi yang saat ini masih tinggal di tenda-tenda pengungsian pascabencana.
Ia menilai, kondisi di lapangan belum memungkinkan percepatan pemindahan pengungsi ke hunian sementara (huntara).
Permintaan tersebut disampaikan Fadhlullah dalam rapat koordinasi antara Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana DPR RI dan Satgas Rehabilitasi Pascabencana bentukan pemerintah di Banda Aceh, Sabtu (10/1).
“Menyiapkan puluhan ribu huntara, kita enggak sanggup. Kami mohon yang Rp 15 ribu itu, Pak. Bagi mereka yang pengungsi saat ini, yang di tenda, agar bisa diberikan kelonggaran itu, Pak. Itu permohonan, per kepala Rp 15 ribu, supaya ada pertumbuhan ekonomi,” ujar Fadhlullah kepada Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad selaku pimpinan rapat.
“Ini seperti contoh Menteri Sosial. Tadi jelas beliau menyampaikan akan mendapat uang lauk pauk Rp 450 ribu, per orang Rp 15 ribu, ketika menempati hunian sementara,” sambung Fadhlullah.
Ia menegaskan, pemberian bantuan tidak seharusnya menunggu pengungsi menempati huntara, karena pembangunan disebut memerlukan waktu lama.
“Bukti yang sekarang ini, 600 huntara dibangun oleh Danantara. Sudah ke-40 sekian hari sekarang, ini baru beberapa kabupaten. Baru 1 peresmian kemarin. Kalau berpatokan ke 3 bulan, bisa-bisa pengungsi akan lama,” kata Fadhlullah.
“Saat ini, jangankan huntara. Tenda saja di dalam Langkahan, di pedalaman, saya baru pulang kemarin, itu belum cukup untuk tenda. Bagaimana kita berbicara untuk memberikan huntara,” tambah dia.


