CILEGON — Regenerasi atlet sekaligus pelestarian budaya lokal menjadi semangat utama penyelenggaraan Bandrong Pencak Silat Championship I Tahun 2026 di Kota Cilegon. Sebanyak 300 pesilat dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas ambil bagian dalam kompetisi yang memperebutkan Piala Ketua DPD Bandrong Kota Cilegon tersebut.
Berlangsung selama dua hari, 24–25 Oktober 2026, di Gedung Serbaguna Brigjen Syam’un Al-Khairiyah, Citangkil, kejuaraan ini menjadi langkah awal dalam memperluas ruang pembinaan bagi pesilat muda di lingkungan Perguruan Pencak Silat Bandrong.
Lebih dari sekadar pertandingan, kejuaraan perdana ini membawa misi menjaga keberlangsungan pencak silat Bandrong sebagai bagian dari kekayaan budaya Banten. Melalui kompetisi, para pesilat diharapkan memperoleh pengalaman bertanding, mengasah kemampuan, serta memahami bahwa prestasi harus berjalan beriringan dengan kedisiplinan dan sportivitas.
Ketua Pelaksana, Ibrohim, menyebut partisipasi sekitar 300 atlet menjadi dorongan positif bagi pengembangan pembinaan Bandrong di Kota Cilegon.
“Alhamdulillah, kejuaraan perdana ini dapat terlaksana dengan baik dan diikuti sekitar 300 atlet dari keluarga besar Bandrong. Kami berharap potensi atlet dapat berkembang dan mampu berprestasi pada tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ia berharap kejuaraan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi pijakan untuk membangun pembinaan atlet yang konsisten dan berkesinambungan. Dengan kesempatan bertanding yang semakin terbuka, para pesilat muda diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi pada jenjang yang lebih tinggi.
Ketua DPD Bandrong Kota Cilegon, Mutasim Madyaksa, menegaskan bahwa keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari jumlah medali atau gelar juara yang diraih. Hal yang tidak kalah penting ialah tumbuhnya generasi muda yang mengenal akar budayanya dan bersedia melanjutkan tradisi yang diwariskan para pendahulu.
“Kami ingin menyiapkan generasi penerus Bandrong yang berprestasi, menjunjung tinggi sportivitas, serta memiliki kebanggaan dan tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya Banten,” ungkapnya.
Menurutnya, pencak silat Bandrong memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Karena itu, keberadaan perguruan dan penyelenggaraan kejuaraan diharapkan mampu mendekatkan seni bela diri tradisional tersebut kepada kalangan pelajar, sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya daerah.
Upaya tersebut turut mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon. Hadir dalam kegiatan itu Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Provinsi Banten, Rohendi, S.Pd., M.Par., dan Kepala Bidang Disdikbud Kota Cilegon, Eva Warni, S.E., M.M.
Dukungan dari unsur pemerintah menjadi bagian penting dalam mendorong pelestarian kebudayaan melalui keterlibatan generasi muda. Kolaborasi antara perguruan pencak silat dan pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat keberadaan Bandrong, baik sebagai tradisi budaya maupun sebagai wadah pengembangan prestasi olahraga.
Ketua Umum DPP Perguruan Pencak Silat Bandrong Banten Indonesia (PPSBBI), Asep Sofwatullah, L.c., M.M., juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya kompetisi tersebut. Ia berharap kejuaraan ini menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas pesilat Bandrong agar mampu bersaing dalam ajang yang lebih luas, mulai dari tingkat provinsi hingga nasional.
Penyelenggaraan kejuaraan perdana ini sekaligus menjadi tantangan bagi DPD Bandrong Kota Cilegon untuk menjaga kesinambungan pembinaan setelah kompetisi berakhir. Potensi ratusan atlet yang terlibat diharapkan dapat dikembangkan melalui latihan terarah, pengalaman bertanding, dan kesempatan mengikuti kejuaraan berikutnya.
Dengan demikian, Piala Ketua DPD Bandrong Kota Cilegon bukan hanya menjadi simbol persaingan antarpesilat, tetapi juga bagian dari upaya membangun masa depan pencak silat Bandrong. Sebuah upaya agar generasi muda Banten tidak hanya mewarisi gerakan dan teknik bela diri, tetapi juga nilai-nilai luhur serta tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya daerahnya.


